Ketika Sang Puteri Berontak


Sorot matanya penuh amarah
Tubuhnya gemetar
Air mata tergenang di pelupuk matanya
Bibirnya gemetar menahan tangis

Sebuah belati tergenggam erat di tangan kirinya
Sekelompok orang mengerumuninya
Dua orang tua melihat di kejauhan
Yang wanita menangis

Sang Puteri melepas kalung liontin
Yang menghiasi leher jenjangnya
Melemparnya dengan gusar
“Aku bukan anjing peliharaan kalian lagi” teriaknya

Wanita tua tadi semakin terisak
Berusaha mendekat dan menyentuh jemari Sang Puteri
Yang lelakinya hanya terdiam
Menyaksikan peristiwa paling menegangkan dalam hidupnya

Sang Puteri semakin menjauh
Mendekati pagar balkon mewah di ruangan kamar menaranya
Pisau belati masih tergenggam di tangannya
Matanya melotot ganas tak tentu arah

Dia jenuh
Dengan semua aturan yang membatasi ruang geraknya
Dia kesepian
Karena tak pernah dibiarkan memiliki seorang teman untuk diajak bicara

Dia dididik dengan keras oleh orang tuanya
Tak dibiarkan memilih apa yang dia suka
Dia hanya tahu
Apa yang dipilihkan orang tua adalah yang terbaik baginya, katanya ..

Sekarang ..
Sang Puteri mulai memberontak
Dia akan bebas
Dia bisa merasakan terlepas dari segala aturan yang tidak pernah disukainya

Dia menaiki pagar menara
Tersenyum sembari menatap kedua orang tua itu
Sebelum melompat dia berkata
“Aku akan bebas, maafkan aku karena aku bukan anak yang terbaik untuk kalian”

(May 21, 2012)

Komentar

Postingan Populer