Ketika Harta, Wanita, dan Popularitas Menghampirimu


Dahulu kau hanya seorang anak biasa . Anak dari seorang guru ngaji di perkampungan . Ibumu telah tiada, sesaat setelah kau dilahirkan di dunia ini . Rumahmu hanya berdinding bilik dan berlantai tanah, diterangi dengan cahaya lampu dinding dan lilin disaat malam . Makan dengan lauk seadanya . Kau tumbuh dan dibesarkan oleh seorang Ayah, dengan bekal akhlak dan ajaran islam, dengan harapan kau bisa menjadi muslim yang taat pada agama, serta selalu menjadi panutan yang baik walau dalam segala keterbatasan . Kau pandai dan berkawan banyak, karena pribadi mu yang menyenangkan, serta tutur katamu yang selalu enak di dengar . Ketika hari kelulusan mu tiba, kau datang menghampiri Ayahmu dengan bangga . Dan disaat itu juga keresahan mulai hadir dalam benak sang Ayah, karena disini, setiap anak yang sudah menyelesaikan pendidikannya, walau hanya sampai jenjang SMA, akan pergi merantau demi memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya, dan begitupun kamu . Datang dan meminta izin pada Ayahmu untuk pergi merantau ke kota, yang penuh dengan dunia gemerlap, dan godaan karena jauh dari pengawasan orang tua . Dengan hati penuh rasa kekhawatiran, Ayah merelakanmu pergi, dengan doa yang tiada henti beliau ucapkan . Tahun demi tahun berlalu, sang ayah tetap setia menunggu . Di teras rumah yang sudah reot itu beliau terduduk, dengan selembar kertas ditangan, surat darimu, beberapa bulan setelah kau berhasil merintis karir di kota, diujung surat kau tuliskan:
“Ayah, aku ingin memfokuskan dulu karir ku disini, mungkin aku akan cukup sibuk hingga tidak sempat berkirim surat padamu, aku harap Ayah memaklumi karena semua yang aku kerjakan disini untuk Ayah, demi memperbaiki kehidupan kita nanti . Ayah, jaga dirimu baik-baik, tiap bulan akan ku kirimkan uang untuk segala keperluan Ayah di kampung . Tapi aku minta maaf jika sampai saat ini aku belum sempat mengunjungimu lagi . Aku menyanyangimu, Ayah”
Dengan wajah sedih dan air mata tertahan Ayah melipat kembali surat itu, “sudah lama sekali”, gumamnya menahan rindu yang begitu menggebu . Itu surat terakhir yang kau kirimkan pada Ayahmu, bertahun-tahun lalu, sedangkan kini sudah tak ada kabar darimu, dan seiring bertambahnya usia sang Ayah pun mulai sakit-sakitan, beliau tak pernah mau diajak berobat, “aku baik-baik saja”, ucapnya setiap ada tetangga yang khawatir dan mengajaknya pergi ke dokter . Setiap hari doa beliau lantunkan untukmu yang jauh diperantauan, berharap kau tidak meninggalkan kewajibanmu sebagai seorang muslim, dan terjaga dari setiap perbuatan yang sesungguhnya dilaknat oleh Allah . Sementara jauh disana, ditempat mu berada, kau tengah asik berjudi bermain wanita di sebuah klub malam, perintah agama kau tinggalkan, Ayah di kampung mulai tak kau perhatikan, meskipun kau selalu berkirim uang untuknya, namun kau tak pernah tau, bahwa tak pernah sekalipun Ayah menggambil uang yang telah kau kirimkan padanya itu, tak pernah sekalipun . Ketika pagi ini kau terbangun, dengan kepala yang terasa berat akibat pengaruh minuman keras semalam, kau melihat ada sepucuk surat di sudut meja samping tempat tidurmu, terlihat nama Ayahmu di sisi surat itu, dan kau hanya berlalu, mengabaikan surat itu . Kau tak pernah tau, jauh disana, di sebuah gubuk reot yang sudah tidak pantas disebut rumah itu, Ayahmu terbaring lemah tak berdaya, dia sekarat, namun tetap berharap bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya, dia percaya kau akan datang, namun harap hanya sebatas harap, hingga ajal menjemput kau tak pernah terlihat . Jenazah telah dimandikan, dan sudah siap untuk dikhafani, lalu segera dibawa menuju pemakaman, tempat peristirahatannya yang terakhir, ketika tiba-tiba telepon rumahmu berdering . Wajah yang mendadak pucat pasi, tangan yang tiba-tiba gemetar, dan tubuh yang seakan tak bertulang itu ambruk seketika, gagang telepon terlepas dari genggaman tanganmu, kau pun terduduk lemas dengan air mata yang deras mengalir membasahi pipi, terngiang ucapan seseorang di telepon tadi, “Ayahmu telah tiada, hari ini beliau dimakamkan, pulanglah, agar setidaknya kau masih dapat melihatnya untuk yang terakhir kalinya” . Sebuah mobil melaju kencang di jalan yang lenggang, di belakang setir mobil seorang pria duduk dengan pikiran yang kemelut, tengah bertarung dengan pikirannya sendiri . “Andai aku lebih perduli dengan Ayah, andai aku membalas surat-surat darinya sehingga tidak membuatnya khawatir, andai aku tidak terpikat dan terlena dengan gemerlap dunia dan wanita di klub malam, andai aku tidak terlalu sibuk dengan urusanku sendiri sehingga mengabaikannya, andai ..” . Rasa bersalah menghampirinya, dan hanya penyesalan yang ada disana . Sebuah mobil sedan memasuki pelataran halaman sebuah gubuk kecil saat orang-orang baru saja pulang dari pemakaman, seorang lelaki paruh baya pun menghampirinya . “Ayahmu baru saja di makamkan, beliau tak henti-hentinya menanyakanmu, dan diakhir nafasnya beliau menitipkan sepucuk surat ini untukmu, bacalah Nak, ini warisan terakhir yang bisa beliau berikan untukmu“ . Dia pun perlahan membuka lembaran surat itu, dengan nafas tertahan perlahan dia membacanya . “Anakku yang begitu kusayangi, bertahun-tahun Ayah menanti kabar darimu . Berpuluh-puluh surat telah Ayah kirim untukmu, namun tak pernah ada kabar darimu, Ayah memaklumi mungkin engkau sedang cukup sibuk saat itu, maka Ayah hanya bisa menunggu, berharap kelak kau akan menjenguk Ayahmu yang sudah renta lagi disini . Tiap hari tak henti doa kupanjatkan untukmu, semoga ilmu agama dan sholat tak kau tinggalkan, dan semoga kau tidak tergoda oleh gemerlap dunia . Anakku yang begitu kubanggakan, Ayah minta maaf jika selama Ayah hidup Ayah tak mampu membiayaimu melanjutkan sekolah sehingga kau harus mencari uang sendiri dengan merantau . Ayah minta maaf jika keadaan memaksa kita seperti ini . Anakku, Ayah begitu menyayangimu, Ayah percaya kau akan baik-baik saja disana . Hanya satu pesan Ayah, ingatlah Nak ilmu agama yang selama ini Ayah ajarkan padamu, jangan lupa dirikan sholatmu yang lima waktu . Ayah mengerti mungkin kau begitu sibuk hingga belum sempat menjenguk Ayah disini, Ayah selalu mencoba memahami meski terkadang rindu yang menggebu hadir di benak Ayah dan tak kuasa Ayah menahannya hingga air mata Ayah terjatuh perlahan . Nak, Ayah percaya kau bisa menjadi anak yang pantas untuk Ayah banggakan, doa Ayah selalu menyertaimu” . Dia pun menutup surat itu dan air mata pun menetes dari pelupuk matanya, terlebih ketika seorang tetangga menyampaikan padanya bahwa sang Ayah selalu hidup kekurangan kerena sebenarnya tak pernah sekalipun sang Ayah mengambil uang yang telah dikirimkan oleh anaknya, dan air mata pun semakin mengalir deras membasahi pipinya . ”Mengapa Ayah tidak mau menerima uang dariku? Apakah Ayah membenciku?” tanyanya . “Ayahmu tidak pernah membencimu, dia selalu membanggakanmu, dia tidak pernah mengambil uang yang telah kau kirimkan padanya karena semata-mata dia tidak mau menjadi beban untukmu, dia bisa sendiri, katannya” tutur seorang tetangganya . Sesak semakin dirasakannya, semua memori indah bersama sang Ayah terputar kembali di otaknya, membuatnya semakin menyesal . Dia pun berlari menuju tempat pemakaman sang Ayah yang tidak jauh dari rumah . Dan disanalah dia berada, di depan makam sang Ayah, terduduk dalam diam sembari meneteskan air mata . “Aku minta maaf, Ayah . Meskipun kini kau sudah tak lagi bisa mendengar suaraku, bahkan aku pun tak bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya, dan meskipun aku telah begitu mengecewakanmu, tapi aku ingin kau tahu, kini aku telah sadar . Ayah maafkan aku, dan aku pun berjanji takkan lagi mengulang salahku yang dahulu . Aku berjanji, Ayah” ucapnya penuh haru . Sesal tinggallah sesal, dan semua yang terkubur telah menjadi kenangan, tak ada lagi nasihat Ayah, tak ada lagi doa terlantun untuknya, semuanya tinggal kenangan, yang tersisa hanyalah sebuah gubuk reot yang pernah menjadi tempat tinggal mereka .
SELESAI

Komentar

Postingan Populer