Karena Malam, adalah Dunia Mereka


Jari – jari kecilnya menari lincah di atas keyboard sebuah notebook
Senyum dan tak jarang tawa terdengar renyah dari bibir mungil sang perempuan
Matanya menatap layar notebook mesra
Kadang terlihat diam untuk berfikir sejenak
Lalu melanjutkan mengetik dengan senyum terkembang

Ah ..
Apa yang sedang dia kerjakan tengah malam begini?
Apa yang sedang dia baca hingga mampu membuat tawanya terkembang?
Apa yang membuat binar – binar matanya menjadi hidup kembali?
Perempuan itu menunduk malu – malu

Itu hanya sebuah percakapan ringan di sebuah situs jejaring social
Namun mampu membuat jemarinya menari kembali
Menciptakan bait demi bait kata untuk di rangkai menjadi sebuah puisi
Bukan puisi nan indah tentunya
Sebab dia bukanlah pujangga

Hanya perempuan yang tak pernah mampu mengeluarkan suara melalui bibir mungilnya
“ Sebab kata – kata yang keluar dari bibir seorang perempuan seringkali adalah dusta “, katanya
“ Dan aku tidak ingin menjadi salah seorang dari mereka “, ..
“ Karena itu, kutuliskan sebuah kejujuran melalui semua tulisanku “, lanjutnya
Tidakkah ingin kau tahu siapa laki – laki yang tengah mewarnai harinya?
Laki – laki yang tengah diceritakannya suatu malam pada Tuhan-nya?

Ah percuma, sebab dia tak akan bicara sekeraspun kau memaksa
Coba tanyakanlah, karena hanya sebuah senyuman yang nanti akan kau dapat
Dan dia pun kembali dengan kesibukannya
Berlama – lama menatap layar demi menunggu sebuah pesan masuk di jejaring sosialnya
Dan kembali tertawa lepas di kamarnya
Menghidupkan suasana ruangan yang ternyata hanya ditempatinya seorang diri
Sambil menerka – nerka obrolan ringan apalagi yang akan mereka bahas malam ini

Hingga pagi ..
Hingga kelopak mata kedua remaja itu mulai terasa berat
Dan rasa kantuk menghinggapi keduanya
Karena bagi mereka ..
Malam adalah dunia milik mereka

Komentar

Postingan Populer