Jerit Lirih Sang Pecundang
Gemuruh petir
menyambar – nyambar di luar
Hujan turun deras
malam itu
Dingin menyeruak
Merasuk kulit
menyentuh kalbu
Kala sang
pecundang duduk terdiam
Menyesali segala
yang telah terbuang sia – sia
Meninggalkan yang
tak seharusnya dia tinggalkan
Demi sebuah asa
yang ternyata fatamorgana
Kini dia telah
dianggap mati,
Di anggap mati
oleh orang di sekitarnya
Tak ada lagi
pujian
Tak ada
penghargaan yang dulu selalu di berikan untuknya
Dia menoleh ke
luar jendela
Kearah pepohonan
bergoyang yang seakan mengejeknya
Angin berhembus di
telinganya
Seakan
memanggilnya dengan sebutan “Sang Pecundang”
Dahulu dia
bagaikan sebuah mata air
Yang di temukan di
padang pasir kering nan tandus
Memberi harapan
bagi makhluk yang menemukannya
Memberikan
kehidupan dan sedikit keceriaan
Namun kini ..
Tak ada lagi yang
percaya
Pada Sang
Pecundang yang mulutnya selalu dipenuhi dengan kebohongan
Dan kata – kata
yang tak pernah bisa di buktikan
Harusnya kau malu
Wahai pemuda
negeri
Sebab kau telah mengecewakan
mereka
Mereka yang selama
ini begitu mendukungmu dengan sepenuh hati
Nama baikmu kini
telah tercoreng
Segala upayamu
telah di anggap sia – sia
Terima saja gelar
barumu kini
Selamat tinggal
wahai “Sang Pecundang” negeri
(Sabtu, 23 June
2012)
Komentar
Posting Komentar